MEMULAI DAN BERTAWAKKAL ADALAH KUNCI KEBERHASILAN

26/10/2016 | 1.758 kali
Religi

MEMULAI DAN BERTAWAKKAL ADALAH KUNCI KEBERHASILAN[1]

oleh: Toni Regal

 

Allah Swt. mengatur alam ini dengan sunnah-sunnah-Nya, betul-betul detail dan tetap.

Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Fathir; 43).

Inilah yang pertama.

Sedangkan yang kedua, manusia diciptakan untuk diuji di dunia ini:

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(Al-Mulk: 2). 

Ketiga, bahwa Allah menciptakan manusia dan Dialah yang paling mengerti tentangnya. Allah Swt. berfirman:

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32). 

Berdasarkan ayat-ayat yang diatas, Allah ingin mencoba hamba-hamba-Nya dengan memberikan mereka cobaan. Dalam hal ini, Allah mempercayakan kepada mereka untuk memulai melakukan tanggung jawab tersebut dengan maksud menuju kepada-Nya. Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Wahai anak Adam, berdirilah untuk-Ku, niscaya Aku akan berjalan kepadamu. Berjalanlah menuju kepada-Ku, niscaya Aku akan berlari kecil kepadamu.”[2] Ini merupakan bentuk penjagaan Allah Yang Maha Agung, karena Dia mengharuskan seorang hamba untuk datang kepada tuannya dan sang tuan akan menerima dan memuliakannya.

Allah Swt. juga berfirman:

“Siapapun yang mendekat kepada-Ku sejengkal saja, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Siapapun yang mendekat kepada-Ku sedepa, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Siapa saja yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari kecil.”[3]

Oleh karena itu, mulailah...... Permulaan berjalan adalah langkah pertama, mulailah dengan selangkah maka Allah akan memberkahi dan menyempurnakannya. Mulailah dan jangan pernah berkeluh kesah. Kebanyakan dari kita mengeluh karena pesimistis dan terlena. Jika kita ditimpa hal tersebut segeralah berfikir untuk melakukan suatu pekerjaan. Berbuatla, Allah yang akan mengangkat bala’. Mulailah, Allah yang akan menuntun kita, berbuatlah dan bergeraklah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Berbuatlah kalian, karena segala kemudahan akan tercipta.” Maka bekerjalah.

Sebagian manusia menjalani hidup dengan menyandarkan diri pada faktor keberuntungan. Tidak punya arah tujuan, sama persis dengan orang yang akan mengerjakan shalat tetapi tidak mengerti makna shalat. Bagi mereka yang penting sudah mengerjakan shalat, yang penting mereka sudah menjalani hidup. Padahal masalahnya tidaklah demikian.

Pertama kali kita memang harus memulainya, jika Allah menghendaki hamba-Nya untuk suatu perkara, maka Dia akan mempersiapkan hamba itu dan mengalirkan kalimat-kalimat serupa dari lisannya. Allahlah yang membuatnya bisa berucap. Allah Swt. berfirman:

“Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan Kami pandai (pula) berkata.” (Fushshilat: 21). 

Maka, Allahlah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, Maha Suci Allah.

Jika kita mengungsi kepada Allah, maka Allah akan menerima kita. Sebaliknya, jika kita berpaling dari-Nya, maka Allah akan menolak kita. Mengungsilah kepada Allah dan mulailah. Mulailah dengan selangkah. Berbuatlah, bersusah payahlah, bergeraklah, dan berusahalah. Allah akan menyempurnakannya dengan kebaikan untuk kita.

Apabila pendirian sudah mantap, maka tinggallah perbuatan, yaitu mencurahkan seluruh usaha dan meningkatkan kesungguhan. Teguhnya pendirian mencegah dari lemahnya keinginan dan harapan, sedangkan kokohnya perbuatan menghindarkan kemalasan. Siapa saja yang tepat sasaran kepada Allah dalam setiap urusannya, maka Allah akan membuatkan untuknya lebih tinggi dari yang lain. Arti keteguhan ini menyatu dengan ikhlas dan tawakal yang tulus. Orang yang paling benar adalah orang yang tulus ikhlas dan senantiasa bertawakal.[4]

Kita diuji untuk memulai, dan dicoba untuk bersungguh-sungguh. Apabila kita memulai sebagaimana yang Allah sukai, maka Allah akan menyempurnakan seperti yang kita harapkan. Keterputusan muncul disebabkan permulaan yang lemah. Kapan kita mulai? Tunjukkanlah dorongan pertama dan tinggalkan sikap “sedang-sedang saja” kepada Allah.



[1] Dirangkum dari buku karya: Muhammad Ibnu Husain Ya’qub, Menuju Surga-Mu 27 Pedoman Menggapai Ridha Illahi (terjemahan). Syamsuddin T. U. (Jakarta: Embun Publishing, 2007).

[2] H.R Ahmad (Jilid 3, hlm. 478) dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab as-Silsilah ash-Shahihah, no. 2287.

[3] Muttafaq ‘Alaih: (Bukhari, 7405) dan (Muslim, 2675).

[4] Al-Fawaid (hlm. 327-438).


Share:
Berita & Artikel Lainnya